2009 : Dalam teka teki
Belum usai tahun 2009. Namun kini sudah timbul semakin banyak teka – teki yang terjadi, ada apakah gerangan? entahlah, mungkin teka teki akan bertambah lagi. Kalau merunut ke belakang di awal tahun ini, ada perasaaan senang, ada perasaan harapan, namun juga ada perasaan gusar. Mungkin benar bahwa tahun 2009 adalah tahun kerbau yang melambangkan tahun persahabatan. Mengapa? karena di awal tahun ini aku bertemu kembali dengan teman-temanku waktu duduk di SMP, SMA, dan juga kuliah. Itu yang membuatku senang, dan juga menjadi harapan, bahwasanya ada pepatah ” banyak silaturahmi , banyak rejeki”. Tapi entah kenapa semakin ke pertengahan tahun semakin kehilangan rasa harapan itu.
Belum lagi dengan perasaan gusar. Entah kenapa, suatu sisi senang jika perusahaan di mana aku mencari nafkah mulai berkembang dengan cepat, tapi di satu sisi mulai gusar, karena semakin terasa “OKB : Orang Kaya Baru”. Padahal sejak dulu aku membenci OKB. Dan di pertengahan tahun ini semakin terbukti. Kejadian demi kejadian.
Suatu kondisi aku merasa senang bahwa aku berguna dan bermanfaat kehadiranku, bisa membantu temanku untuk operasi, buat saudaraku, walau harus menguras seluruh tabunganku. Dalam kondisi lain menyusul, dimana sebaliknya, aku membutuhkan pertolongan, dan mencoba untuk minta pertolongan dari teman, ternyata….. teman hanyalah sebagai teman, tidak ada persahabatan abadi yang secara gigih memperjuangkan untuk temannya. Mungkin dari sini bisa diambil hikmahnya bahwasanya, arti saudara menjadi penting, karena saudara yang bisa membatu tanpa pamrih, dan lebih penting lagi adalah diri sendiri yang bisa membantu. Dan akhirnya walau ada jalan keluar, namun harus kutanggung dalam setahun ke depan, yang artinya juga harus bisa menahan atau menghapus harapan lain sampai setahun ke depan, karena secara logika tidak mungkin punya simpanan.
Dalam dilema. Satu sisi ingin lepas dan mandiri, di sisi lain harus menjaga setahun kedepan agar tetap bisa bertahan. Itu yang membuatku hanya bisa terdiam. Kejadian demi kejadian yang masih menjadi teka teki, entah kapan jawabannya kan kuperoleh. Ditambah apa yang aku lakukan selalu salah. Aku pernah bertanya ” Apa bedanya ceroboh dengan sial?”. Ada temanku yang menjawab ceroboh atau sial hasilnya sama. namun aku masih bertahan bukan pada hasil, tapi pada prosesnya. Apa bedanya? dan kini kutemukan jawabannya. Ceroboh adalah ada bagian tanggung jawab yg tidak dilaksanakan sehingga terjadi yang diinginkan. Tidak dilaksanakannya kewajiban kadang faktornya disebabkan oleh orang lain, yaitu kita kadang terlalu mempercayakan kepada orang lain. dari sini bisa diambil hikmahnya “hitunglah dahulu sebelum mempercayakan sesuatu pada orang lain”. Sedangkan sial adalah dimana kita sudah menjalankan kewajiban tapi terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki.
Sebagai ilustrasi adalah rumah kita kemalingan. Dikatakan ceroboh adalah jika kita lupa mengunci pintu, tapi jika kita sudah mengunci semua pintu dan tetap kemalingan maka bisa dikatakan sial.
Dua hal tersebut aku merasakan dan menanggungnya di tahun 2009 ini. Menyikapinya ternyata berbeda. Untuk ceroboh mungkin harus berhati-hati percaya pada orang lain, sedangkan sial harus lebih pasrah dan ikhlas sembari mawas diri mungkin ada perbuatanku yang salah tanpa sadar.
Mudah-mudahan aku bisa bertahan. Itu mungkin bagian rahasia kehidupan, tak seorangpun tahu akan apa yang akan terjadi, masih ada sisa waktu di tahun 2009 ini, mudah-mudahan bukan teka teki lagi yang akan hadir namun jawaban demi jawaban yang menyenangkan, Semoga.








































Wah ada apa nih Rus? Ketika banyak cobaan menghampiri jangan pernah menyesali. Walapun mungkin banyak tanya dalam hati, percayalah bahwa itu adalah jalan untuk kehidupan yang lebih baik…
gak ada rasa penyesalan dalam hati, karena disibukkan dengan pikiran menyelesaikannya di hari-hari mendatang….
Mungkin bukan sial, melainkan takdir yang memang harus dijalani dengan ikhlas dan sepenuh hati. Yakinlah bahwa apa yang terjadi di dunia ini tak pernah luput dari pengawasan-Nya. Dan semua ini sudah terprogram di megaserver Lawh Mahfudz-Nya. Hanya tinggal menyikapi secara su’udzan dan ahsan….
wah Bu Nurlaila, jangankan sampe tingkatan ihsan, sampe ke mukmin aja blum, jadi terlalu berat……jadi muslim aja blum bener…terima kasih atas saran dan pendapatnya.
Ahsan Pak, bukan ihsan. Menyikapi secara ahsan (baik) serta (ralat sedikit) bukan su’udzan, tapi husnudzan. hehehe…
Setahu saya (mohon koreksi kalo salah). kalo gak salah tingkatan orang beriman itu 1. Muslim (orang yg beriman). 2. Mukmin (orang yg bertaqwa). 3. Muhsin (orang yg punya sifat ihsan). Gimana ??
Ada ihsan ada ahsan. Yang saya maksudkan disini ahsan (baik). Ihsan (beribadah kepada Alloh seolah-olah kita melihat-Nya, maka apabila kita tidak bisa (beribadah seolah-olah melihat-Nya), maka sesungguhnya Dia melihat kita). Apa yg Pak Rus katakan memang benar, tapi yaaa… panjang kalo ingin dijelaskan. hehehe.. intinya barangsiapa yang ingin mencapai derajat muhsin maka dia harus muslim (menjalankan rukun Islam) dan mu’min (menjalankan rukun iman). Wallohu a’lam.
NB: bisa dibaca QS. Al Ahzab: 35